Minggu, 21 Maret 2010

Pembagian Barang dan Jasa


Pembagian Barang dan Jasa

Pembagian barang dan jasa menurut Savas yang didasarkan pada dua karakteristik yaitu:

  1. Ekslusi

Berarti mencegah seseorang dari kemungkinan ikut menikmati suatu barang tertentu, barang dan jasa dapat dikatakan mempunyai karakteristik ekslusi jika pengguna potensialnya dapat ditolak ikut menggunakan kecuali mereka dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pemasok potensialnya. Dengan kata lain barang dapat berpindah tangan hanya jika pembeli atau penjual menyepakati persyaratannya.

  1. Konsumsi

Barang dapat digunakan dikonsumsi bersama oleh banyak orang yang tanpa mengurangi kualitas dan kuantitasnya, sementara barang lain hanya tersedia untuk konsumsi individual, artinya barang yang kita gunakan seeorang tidak dapat dikonsumsi orang lain pada saat yang sama.

Dari karakteristik barang dan jasa di atas, ada 4 kelompok barang dan jasa yaitu sebagai berikut:

  1. Privat Goods

Barang dan jasa ini umumnya dikonsumsi secara individual dan tidak dapat diperoleh si pemakai tanpa persetujuan pemasoknya. Bentuk persetujuan ini biasanya dilakukan dengan menetapkan harga tertentu. Misalnya : Taksi, Hotel.

  1. Common pool Goods

Barang dan jasa ini umumnya dikonsumsi secara individual namun sulit untuk dicegah siapapun yang ingin memperolehnya meskipun mereka tidak mau membayar. Misal : sinar matahari, udara, ikan.

  1. Tool Goods

Barang dan jasa jenis ini umumnya digunakan secara bersama-sama, namun si pengguna harus membayar dan mereka yang tidak dapat/ mau membayar dapat dengan mudah dicegah dari kemungkinan menikmati barang tersebut. Semakin sulit atau mahal mencegah seseorang konsumen potensial dari pemanfaatan tool goods semakin serupa barang tersebut dengan ciri barang publik. Misal : Jalan tol, bioskop, telepon.

  1. Public goods

Barang dan jasa jenis ini umumnya digunakan secara bersama-sama dan tidak mungkin mencegah siapapun untuk menggunakannya, sehingga pengguna pada umumnya tidak akan bersedia membayar berapapun tanpa dipaksa untuk memperoleh barang ini. Misalnya : Jalan raya, keamanan.


Artikel lain:

Dimensi Pokok Kualitas Jasa

Konsep Jasa

Definisi Kualitas Jasa



Definisi Kualitas Jasa

Definisi Kualitas Jasa

Menurut Wyckof (dalam Nasution, 2004:47) mendefinisikan kualitas jasa adalah “Tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”.

Sedangkan menurut Lewis dan Boom (dalam Tjiptono, 2005:121) medefinisikan kualitas jasa sebagai “Ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan”. Maksudnya adalah kualitas jasa bisa diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan.

Artikel lain:

Dimensi Pokok Kualitas Jasa

Konsep Jasa

Pembagian Barang dan Jasa


Sumber

Nasution. 2004. Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: Ghalia Indonesia

Tjiptono, Fandy. 2004. Manajemen Jasa. Yogyakarta: ANDI Offset

Konsep Jasa


Konsep Jasa

Jasa merupakan aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan kepada konsumen. Kotler memberikan definisi tentang jasa yaitu “tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang bersifat tidak berwujud secara fisik (intangibles) dan tidak menghasilkan kepemilikan bagi yang membelinya”.

Menurut Gronroos (dalam Tjiptono, 2005:11) mendefinisikan jasa sebagai berikut

“Jasa adalah proses yang terdiri atas serangkaian aktivitas intangible yang biasanya (namun tidak harus selalu) terjadi pada interaksi antara pelanggan dan karyawan jasa dan atau sumber daya fisik atau barang dan atau sistem penyedia jasa, yang disediakan sebagai solusi atau masalah pelanggan”.

Ada beberapa karakteristik jasa yang membedakannya dengan barang yaitu:

1. Intangibility

Jasa berbeda dengan barang. Bila barang merupakan suatu objek, alat, material atau benda, maka jasa merupakan suatu perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja ataupun usaha. Walaupun sebagian besar jasa dapat berkaitan dan didukung dengan produk fisik, esensi dari apa yang dibeli pelanggan adalah kinerja yang diberikan oleh pihak tertentu kepada pihak lainnya.

2. Variability

Jasa bersifat sangat bervariabel karena terdapat banyak variasi bentuk, mutu, dan jenisnya sangat tergantung dari siapa, kapan, dan di mana jasa tersebut diproduksi.Variasi jasa sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi pelanggan selama jasa disampaikan kepadanya

3.Inseparability

Barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, baru dikonsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama.

4. Perishability

Jasa merupakan komoditas yang tidak tahan lama, tidak dapat disimpan untuk pemakaian ulang di waktu mendatang, dijual kembali atau dikembalikan. Misalnya kursi pesawat yang kosong, kamar hotel yang tidak dihuni atau jam tertentu tanpa pasien di tempat praktek akan berlalu begitu saja karena tidak bisa disimpan.

Sumber

Tjiptono, Fandy. 2004. Manajemen Jasa. Yogyakarta: ANDI Offset

Artikel lain:

Dimensi Pokok Kualitas Jasa

Definisi Kualitas Jasa

Pembagian Barang dan Jasa


Dimensi Pokok Kualitas Jasa

Dimensi Pokok Kualitas Jasa

Menurut Parasuraman dkk (dalam Tjiptono, 2005:132) mengidentifikasikan sepuluh dimensi pokok kualitas jasa, yaitu:
  1. Reliability, meliputi dua aspek utama, yaitu konsistensi kerja (performance) dan sifat dapat dipercaya (dependability). Hal ini berarti organisasi mampu menyampaikan jasanya secara benar sejak awal (right the first time), memenuhi janjinya secara akurat dan handal (misalnya, menyampaikan jasa sesuai dengan jadwal yang disepakati), menyimpan data (record) secara tepat, dan mengirimkan tagihan yang akurat.Responssivitas atau daya tanggap, yaitu kesediaan dan kesiapan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan menyampaikan jasa secara cepat. Beberapa contoh diantarnya: ketepatan waktu layanan, pengiriman slip transaksi secepatnya, kecepatan menghubungi kembali pelanggan, dan penyampaian pelayanan secara cepat.
  2. Kompetensi, yaitu penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat menyampaikan jasa sasuai dengan kebutuhan pelanggan. Termasuk didalamnya adalah pengetahuan dan kerampilan karyawan kontak, pengetahuan dan keterampilan personal, dan kapabilitas riset organisasi.
  3. Akses, meliputi kemudahan untuk dihubungi atau ditemui (approachability) dan kemudahan kontak. Hal ini berarti lokasi fasilitas jasa mudah dijangkau, waktu mengantri atau menunggu tidak terlalu lama, saluran komunikasi perusahaan mudah dihubungi (contohnya, telepon, surat, email, fax, dan seterusnya), dan jam operasi nyaman.
  4. Kesopanan (courtesy), meliputi sikap santun, respek, atensi, dan keramahan para karyawan kontak (seperti resepsionis, operator telepon, bell person, teller bank, dan lain-lain).
  5. Komunikasi, artinya penyampaian informasi kepada para pelanggan dalam bahasa yang mudah mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Termasuk di dalamnya adalah penjelasan mengenai jasa/ layanan yang ditawarkan, biaya jasa, trade-off antara jasa dan biaya, serta proses penanganan masalah potensial yang sering timbul.
  6. Kredibilitas, yaitu sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas mencakup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakter pribadi karyawan kontak, dan interaksi dengan pelanggan (hard selling versus soft selling approach).
  7. Keamanan (security), yaitu bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguan. Termasuk di dalamnya adalah keamanan secara fisik (physical safety), keamanan financial (financial security), privasi, dan kerahasiaan (confidentiality).
  8. Kemampuan memahai pelanggan, yaitu berupaya memahami pelanggan dan kebutuhan spesifik mereka, memberikan perhatian individual, dan mengenal pelanggan reguler.
  9. Bukti fisik (tangibles), meliputi penampilan fasilitas fisik, peralatan, personil, dan bahan-bahan komunikasi perusahaan (seperti kartu bisnis, kop surat, dan lain-lainnya).

Sumber
Tjiptono, Fandy. 2004. Manajemen Jasa. Yogyakarta: ANDI Offset

Artikel lain:
Konsep Jasa
Definisi Kualitas Jasa
Pembagian Barang dan Jasa

Jumat, 19 Maret 2010

Lima Tonggak Pengurangan Kemiskinan

Lima Tonggak Pengurangan Kemiskinan

lima tonggak pengurangan kemiskinan, yaitu :

  1. Menciptakan peluang kerja (Creating Opportunity).
  2. Memberdayakan Masyarakat (Community Empowerment).
  3. Mengembangkan Kemampuan (Capacity Building).
  4. Menciptakan Perlindungan Sosial (Sosial Protection).
  5. Membina Kemitraan Global (Forging Global Partnership)

artikel lain:
Dimensi kemiskinan


Dimensi Kemiskinan

Dimensi Kemiskinan

Ciri kemiskinan menurut Suharto (2005:132) adalah:

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan).
2. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal.
5. Rendahnya SDM dan keterbatasan SDA.
6. Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena kecacatan fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).

Dengan menggunakan perspektif yang lebih luas, David Cox dalam Suharto (2005:132) membagi kemiskinan ke dalam beberapa dimensi :

1. Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi menghasilkan pemenang dan yang kalah. Pemenang umumnya adalah negar-negara maju. Sedangkan negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi.
2. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan subsistem (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggirann pedesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).
3. Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kaum minoritas.
4. Kemiskinan konsekuensional. Kemiskinan yangterjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.

Ellis dalam Suharto (2005) menyatakan bahwa dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosial-psikologis. Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Secara politik, kemiskinan dapat dilihat sebagai akses terhadap kekuasaan (power). Kemiskinan secara sosial-psikologi menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas.

artikel lain:
Lima Tonggak Pengurangan Kemiskinan

Referensi
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial). Bandung: PT Rineka Aditama.

Dimensi Kemiskinan

Dimensi Kemiskinan

Ciri kemiskinan menurut Suharto (2005:132) adalah:

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan).
2. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal.
5. Rendahnya SDM dan keterbatasan SDA.
6. Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena kecacatan fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).

Dengan menggunakan perspektif yang lebih luas, David Cox dalam Suharto (2005:132) membagi kemiskinan ke dalam beberapa dimensi :

1. Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi menghasilkan pemenang dan yang kalah. Pemenang umumnya adalah negar-negara maju. Sedangkan negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi.
2. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan subsistem (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggirann pedesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).
3. Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kaum minoritas.
4. Kemiskinan konsekuensional. Kemiskinan yangterjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.

Ellis dalam Suharto (2005) menyatakan bahwa dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosial-psikologis. Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Secara politik, kemiskinan dapat dilihat sebagai akses terhadap kekuasaan (power). Kemiskinan secara sosial-psikologi menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas.

Referensi
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial). Bandung: PT Rineka Aditama.

Rabu, 17 Maret 2010

Tipe / Macam Evaluasi Kebijakan

Tipe / Macam Evaluasi Kebijakan

Evaluasi biasanya terdiri dari tiga tipe :

  1. Pre-program evaluation (Evaluasi dapat dilakukan pada saat sebelum program berjalan).

"Pre program evaluation" dijalankan sebelum program diimplementasikan. Biasanya untuk (1) mengukur tingkat kebutuhan dan potensi pengembangan dari target atau daerah tujuan, (2) mengetest hipotesis program atau menentukan kemungkinan keberhasilan dari rencana program atau proyek (PBB, 1978: 9 dalam Inayatullah 1980: 58).

  1. On-going evaluation (Evaluasi dapat dilakukan pada saat program berjalan).

On-going evaluation didefinisikan oleh Bank Dunia sebagai "sebuah analisa, yang berorientasi pada aksi, tentang efek dan akibat dari proyek dibandingkan dengan antisipasi yang diambil selama pengimplementasian" (Carnea and Tepping, 1977: 12 dalam Inayatullah 1980: 58). PBB mendefinisikan sebagai berikut:

"On-going atau concurrent evaluation dijalankan selama pengimplementasian program. Menganalisa hubungan antara output dan efek atau kemungkinan yang mungkin timbul. (PBB, 1978: 8–9 dalam Inayatullah 1980: 58).

Fungsi dari on-going evaluation menurut Bank Dunia adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan solusi dari masalah yang timbul selama program dijalankan

  2. Mengecek apakah target sasaran program benar-benar mendapat keuntungan dari program.

  3. Membantu manajemen program untuk berdaptasi terhadap "segala perubahan (tujuan dan kondisi-kondisi)" dan perubahan dari kebijakan yang berhubungan dengan tujuan, penataan-penataan institusi dan perubahan sumber-sumber yang memiliki dampak pada proyek selama pengimplementasian.

  1. Ex-post evaluation (Evaluasi dapat dilakukan setelah program selesai).

PBB mendefinisikan ex-post evaluation sebagai proses yang "diambil setelah pengimplementasian program, memeriksa effek dan akibat dari program, dan juga ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang : (PBB, 1978: 9 dalam Inayatullah 1980: 58).

      1. Keefektifan program dalam meraih tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

      2. Kontribusinya terhadap target-target perencanaan dan pengembangan sektoral ataupun nasional.

      3. Akibat jangka panjang sebagai hasil dari proyek.

Bank Dunia mendefinisikan ex-post evaluation sebagai sebuah usaha "untuk mereview (mengkaji ulang) secara komprehensif pengalaman dan akibat atau effek dari program sebagai sebuah basis untuk desain proyek dan formulasi kebijakan di masa depan." (Carnea dan Tepping, 1977: 12 dalam Inayatullah 1980: 59). The ex-post secara definisi adalah sebuah aktivitas yang diambil setelah penyelesaian proyek atau program.


artikel lain:
Definisi Kebijakan Publik
Tujuan Dan Pentingnya Evaluasi Kebijakan
Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Referensi

Inayatullah, Mathur. K dan. 1980. Monitoring And Evaluation Of Rural Development: Some Asian Experiences. Kuala Lumpur, Malaysia: City Press Sdn. Bhd.




Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Menurut Stufflebeam dan Webster (1994), Dunn (1999) dalam Mutrofin (2005:107) mengklasifikasikan pendekatan dan orentasi riset evaluasi menjadi tiga kelompok. Menurut Dunn, pembedaan beberapa pendekatan dalam evaluasi kebijakan menjadi sangat penting dilakukan mengingatkan kurang jelasnya arti evaluasi di dalam analisis kebijakan. Pendekatan tersebut anatara lain :

  1. Evaluasi Semu (Peseudo Evaluation)

Pendekatan yang mengunakan meode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil kebijakan, tanpa untuk berusaha menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil-hasi tersebut terhadap individu, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan. Asumsinya bahwa ukuran tentang manfaat atau nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti dengan sendirinya (Self evident) atau tidak kontroversial. Dalam evaluasi ini secara khusus menerapkan bermacam-macam metode (desain eksperimental-semu, kuesioner, random sampling, teknik setatistik) untuk menjelaskan variasi hasil kebijakan yang ada (misalnya: jumlah lulusan pelatihan yang dipekerjakan, Unit-unit pelayanan medis yang diberikan, keuntungan bersih yang dihasilkan) diterima begitu saja sebagai tujuan yang tepat.


  1. Evaluasi Formal (Formal Evaluation)

Pendekatan yang mengunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan administrator program. Asumsinya bahwa tujuan dan target diumumkan secara formal adalah merupakan ukuran yang tepat untuk manfat atau nilai kebijakan program. Dalam evaluasi formal mengunakan berbagai macam metode yang seperti dipakai dalam evaluasi semu dan tujuannya identik untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai variasi-variasi hasi kebijakan dan dampak yang dapat dilacak dari masukan dan proses kebijakan. Evaluasi formal mengunakan Undang-undang, dokumen-dokumen program, dan wawancara dengan pembuat kebijakan dan administrator untuk mengidentifikasi, mendefinisikan dan menspesialisasikan tujuan dan target kebijakan. Kelayakan atau ketepatan dari tujuan dan target yang diumumkan secara formal tersebut tidak ditanyakan. Dalam evaluasi formal tipe-tipe kriteria evaluatif yang paling sering digunakan adalah efektifitas dan efisiensi.


Salah satu tipe evaluasi formal adalah evaluasi sumatif yang meliputi usaha yang memantau pencapaian tujuan dan target formal setelah suatu kebijakan atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan evaluasi formatif meliputi usaha-usaha untuk secara terus menerus memantau, pencapaian tujuan-tujuan dan target formal.


  1. Evaluasi Keputusan Teoritis (Decision Theoretic Evaluation)

Pendekatan yang mengunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertangung jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. Asumsinya evaluasi keputusan teoritis berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari pelaku kebijakan baik dari yang tersembunyi atau dinyatakan. Ini berarti bahwa tujuan dan target dari para pembuat kebijakan dan administrator merupakan salah satu sumber nilai, karena semua pihak yang mempunyai andil dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan (sebagai contoh: staf tingkat menengah dan bawahan, pegawai pada badan-badan lainya, kelompok klien) dilibatkan dalam merumuskan tujuan dan target dimana kinerja nantinya akan diukur.

artikel lain:
Definisi Kebijakan Publik
Tujuan Dan Pentingnya Evaluasi Kebijakan
Tipe / Macam Evaluasi Kebijakan

Referensi

Mutrofin. 2005. Pengantar Metode Riset Evaluasi (Kebijakan, Program dan Proyek). Yogyakarta: Laksbang Pressindo.



Tujuan dan Pentingnya Evaluasi Kebijakan

Tujuan dan Pentingnya Evaluasi Kebijakan

Evaluasi memiliki beberapa tujuan yang dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan. Melalui evaluasi maka dapat diketahui derajad pencapaian tujuan dan sasaran.

  2. Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan. Dengan evaluasi juga dapat diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kebijakan.

  3. Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan. Salah satu tujuan evaluasi adalah mengukur berapa besar dan kualitas pengeluaran atau output dari kebijakan.

  4. Mengukur dampak suatu kebijakan. Pada tahap lebih lanjut, evaluasi ditujukan untuk melihat dampak dari suatu kebijakan, baik dampak positif maupun negatif.

  5. Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan.

  6. Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang. Tujuan akair dari evalusai adalah memberikan masukan bagi proses kebijakan ke depan agar lebih baik.

Dengan adanya evaluasi baik yang dilakukan oleh intern ataupun ekstern dari suatu kebijakan/program, diharapkan kebijakan-kebijakan kedepan akan lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Berikut ini beberapa alasan pentingnya evaluasi dilakukan :

  1. Untuk mengetahui tingkat efektifitas suatu kebijakan, yakni seberapa jauh suatu kebijakan mencapai tujuan.

  2. Mengetahui apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal. Dengan melihat pada tingkat efektivitasnya, maka dapat disimpulkan apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal.

  3. Memenuhi aspek akuntabilitas publik. Dengan melakukan penilaian kinerja suatu kebijakan, maka dapat dipahami sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada publik sebagai pemilik dana dan mengambil manfaat dari kebijakan dan program pemerintah.

  4. Menunjukkan pada stakeholders manfaat suatu kebijakan. Apabila tidak dilakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan, para stakeholders, terutama kelompok sasaran tidak mengetahui secara pasti manfaat dari suatu kebijakan atau program.

  5. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pada akhirnya, evaluasi kebijakan bermanfaat untuk memberikan masukan bagi proses pengambilan kebijakan yang akan datang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan diharapkan lebih baik


artikel lain:
Definisi Kebijakan Publik
Tipe / Macam Evaluasi Kebijakan
Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Definisi Kebijakan Publik

Definisi Kebijakan Publik

Fredrich (mengartikan kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.

Sedangkan kata publik diambil dari kata “public”, kata ini masih membuka diri berbeda-beda. Kita mengenal “public administration“ yang berarti Administrasi Negara, tapi kita mengetahui juga istilah public opinion yang berarti pendapat umum. Kita mengenal public health yang berarti kesehatan masyarakat, kita tahu adanya istilah internal public atau eksternal public yang berarti sekelompok orang-orang yang ada kaitannya dengan masalah (issue) dalam masyarakat dalam public relation.

Dalam konteks ilmu administrasi negara, konsep kebijakan selalu melekat dengan konsep kebijaksanaan negara atau publik (public policy) karena kebijakan tidak bisa dilepaskan dari politik. Ini disebabkan karena kebijakan negara selalu mengabdi kepada kepentingan masyarakat banyak. para ahli memberikan definisi yang sesuai dengan Public Policy antara lain:

Menurut Mustopadidjaja, “kebijakan publik pada dasarnya adalah suatu keputusan yang dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan tertentu, untuk melakukan kegiatan tertentu, atau untuk mencapai kegiatan tertentu, yang dilakukan oleh instansi yang berkewenangan daam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan negara dan pembangunan”.


Carl J. Friedrich (dalam Soenarko:42) mendefinisikan kebijaksanaan publik sebagai berikut:

Public Policy is proposed course of action of a person, group, opportunities which the policy was proposed to utilize and overcome in an effort to reach a goal or realize an objective or a purpose”.

Dalam bahasa yang lebih komprehensif,

Lester dan Stewart (dalam Wibowo dkk, 2004:29) memberikan usulan definisi kebijakan publik, yaitu

“proses atau serangkaian keputusan atau aktivitas pemerintah yang didesaian untuk mengatasi masalah publik, apakah hal itu riil ataukah masih direncanakan(imagined)”.

Thomas R. Dye mengatakan kebijaksanaan publik adalah apapun yang pemerintah pilih untuk melakukan atau tidak melakukan. Pengertian kebijakan ini merupakan upaya untuk memahami dan mengartikan: (1) Apa yang dilakukan (atau tidak dilakukan) oleh pemerintah mengenai suatu masalah, (2) Apa yang menyebabkan atau yang mempengaruhi, (3) Apa pengaruh dan dampak dari kebijakan publik tersebut.


Sedangkan dalam konteks ilmu administrasi negara, konsep kebijakan selalu melekat dengan konsep kebijakan negara atau publik (public policy) karena kebijakan tidak bisa dilepaskan dari politik. Ini disebabkan karena kebijakan negara selalu mengabdi kepada kepentingan masyarakat banyak. Menurut David Easton (dalam Wahab, 1990:15) Ciri-ciri khusus yang melekat dalam kebijaksanaan negara adalah bahwa kebijaksanaan negara itu dirumuskan oleh orang-orang yang memiliki wewenang dalam sistem politik.

Implikasi dari pengertian kebijakan negara tersebut menurut Islamy, (2002:20-21) adalah:

        1. Bahwa kebijaksanaan negara itu dalam bentuk perdananya berupa penetapan tindakan-tindakan pemerintah.

        2. Bahwa kebijaksanaan negara itu tidak cukup hanya dinyatakan tetapi dilaksanakan dalam bentuknya yang nyata.

        3. Bahwa kebijaksanaan negara baik untuk melakukam sesuatu atau tidak melakukan sesuatu itu mempunyai dan dilandasi dengan maksud dan tujuan tertentu.

        4. Bahwa kebijaksanaan negara itu harus senantiasa ditujukan bagi kepentingan seluruh anggota masyarakat.

artikel lain:
Tipe / Macam Evaluasi Kebijakan
Tujuan Dan Pentingnya Evaluasi Kebijakan
Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Referensi

Islamy, I. 2002. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Soenarko, SD. 2000. Public Policy Pengertian Pokok untuk memahami dan Analisis Kebijaksanaan Pemerintah. Surabaya: Airlangga Universitas Press

Wahab, S.A. 1990. Analisis Kebijaksanaan; Dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara


Wibowo, S. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


Minggu, 14 Maret 2010

Sindrom Koroner Akut


Sindrom Koroner Akut

Apabila aliran darah di dalam urat nadi koroner terhalang secara total, bagian otot jantung itu mengalami kerusakan. Ini dikenal sebagai sindrom koroner akut (SKA) atau acute coronary syndrome (ACS). SKA umumnya disebabkan oleh penyumbatan arteri koroner secara tiba-tiba, yaitu karena pecahnya plak lemak aterosklerosis pada arteri koroner. Plak lemak tersebut menjadi titik-titik lemah dari arteri itu dan cenderung untuk pecah. Pada waktu pecah di lokasi tersebut, gumpalan cepat terbentuk yang menyebabkan penghambatan (okulasi) arteri yang menyeluruh, serta memutuskan aliran darah ke otot jantung. Ini mengakibatkan rasa sakit dada yang hebat pada pusat dada dan menyebar sampai lengan atau leher. Sakit dada tersebut diikuti dengan berkeringat dan nafas pendek (Soeharto, 2002). Nyeri angina yang berlangsung ≥ 30 menit dan terutama disertai dengan berkeringat, mual dan muntah perlu dicurigai sebagai infark miokard (Gray, 2002: 4).

Setiap orang mungkin memiliki gejala serangan jantung yang berbeda. Namun demikian simtom yang umum adalah sebagai berikut :

  1. Sakit dada yang hebat seperti ditekan. Bermula dari dada bagian depan dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, pundak kiri, dan rahang.

  2. Nafas pendek

  3. Berkeringat dingin

  4. Terasa kelemahan yang menyeluruh atau kelelahan.


Sumber

Gray, H.H. 2002. Lecture Notes Kardiologi; Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Soeharto, I. 2002. Serangan Jantung dan Stroke; Hubungan sebab terjadinya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arikel lain:
faktor tisiko penyakit jantung koroner
jantung
penyakit kardiovaskuler

Penyakit Kardiovaskuler

Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh penyempitan atau penghambatan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Mengeras dan menyempitnya pembuluh darah oleh pengendapan kolesterol, kalsium dan lemak berwarna kuning dikenal sebagai aterosklerosis (atherosclerosis) atau pengapuran. Bila terdapat kekurangan aliran darah ke otot jantung karena penyempitan, kondisi ini dikenal sebagai iskemik (ischaemia).

Jantung Berhenti Tiba-Tiba (Sudden Cardiac Death)

Pada kasus ini jantung mendadak berhenti yang disebut sebagai cardiac arrest. Penyebab yang paling sering adalah karena detak jantung (nadi) terlalu cepat yang disebabkan karena kerusakan pada sistem listrik jantung. Peristiwa seperti ini dapat ditolong (reversible) bila pasien mendapat pertolongan dalam beberapa menit, misalnya denga defibrillation yaitu pemakaian “arus listrik” untuk dapat kembali ke irama normal.

Disritmia

Disritmia jantung ialah abnormalitas irama jantung. Disritmia bisa diakibatkan oleh ganguan otomatisitas, gangguan hantaran, atau kombinasi keduanya. Gangguan otomatisitas terlihat berupa percepatan atau perlambatan nodus sinus, misalnya pada takikardia atau bradikardia sinus. Ganguan hantaran bisa berupa irama yang sangat cepat atau sangat lambat (blok atrioventrikuler). Kombinasi bisa terlihat pada denyut atrial prematur dengan blok atrioventrikuler derajat pertama, atau fluter atrium dengan blok 3:1 (Mansjoer, 2000).

Gagal Jantung

Gagal jantung yang sering disebut Congestive Heart Failure adalah istilah yang dipergunakan untuk menerangkan jantung yang tidak dapat lagi memompa darah secara cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Gagal jantung selalu bersifat serius tetapi umumnya tidak fatal secara mendadak. Penyebab kondisi ini adalah suplai darah ke otot jantung menurun karena PJK, jumlah sel-sel otot jantung yang berfungsi menurun karena terjadi serangan jantung, klep jantung strukturnya tidak sempurna menyebabkan terjadinya kebocoran, dan lain-lain.

Gagal jantung sering dapat diperbaiki dengan obat-obatan yang membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak garam dan air, dengan diet yang mengurangi pemasukan garam, dengan obat-obatan yang meningkatkan detak jantung, dan dengan obat yang melebarkan arteri berukuran lebih kecil sehingga mengurangi tekanan darah.

Arikel lain:
faktor tisiko penyakit jantung koroner
jantung
sindrom koroner akut

Sumber

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.

Sudoyo, A. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi IV. Jakarta :Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI.

Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner



Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner


Faktor Yang Tidak Dapat Diintervensi:
a. Umur
Kegemukan yang terjadi pada anak yang masih kecil merupakan pertanda bahwa dia akan menjadi gemuk di usia dewasa. Kebiasaan merokok dan memakan makanan cepat saji biasanya dimulai pada waktu remaja. Kebiasaan hidup ini memberi pengaruh yang jelek pada profil lemak, antara lain konsentrasi yang tinggi terhadap total kolesterol, trigliserida, LDL dan HDL yang rendah. Bila pola hidup yang salah dikombinasikan pada faktor-faktor genetik yang dapat mempercepat atherosklerosis dan menjadi potensial meningkatnya terjadinya PKV pada usia dewasa atau tua. Dengan mengetahui bahwa banyak dari sebab-sebab penyakit di usia tua dapat dideteksi di usia anak-anak atau remaja sehingga diperlukan usaha mencegahnya di usia anak-anak dengan memilih diet dan nutrisi yang baik bagi tubuh (Soeharto, 2001: 168).
Dr. Strong dan Dr. McGill mempelajari hubungan fatty streak (penyusun lemak pada dinding arteri dan plak pada arteri koroner) terhadap 4737 autopsi antara umur 10-39 tahun menemukan hal-hal berikut:
1) Adanya fatty streak pada arteri koroner amat jarang terjadi sebelum umur 10 tahun dan hampir selalu ada di atas umur 20 tahun
2) Sebagian fatty streak menjadi fibrous plague (jaringan plak) yang terjadi pada beberapa kasus sebelum umur 20 tahun dan meningkat drastis selama 2 dekade berikutnya.
3) Penduduk negara-negara maju seperti USA terjadi fatty streak secara luas pada anak-anak, memiliki lebih banyak terjadi atherosklerosis pada usia tua (Soeharto, 2001: 170).
Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa aterosklerosis berawal pada masa anak-anak dan perlahan-lahan menjadi lebih banyak di usia dewasa, selanjutnya akan mendorong terjadinya penyumbatan arteri.

b. Jenis kelamin.
Menurut Maximin (1997) dalam buku heart therapy mengatakan laki-laki memiliki faktor risiko alami untuk terkena PJPD. Laki-laki memiliki risiko lebih tinggi (dalam periode tertentu) dibandingkan perempuan. Risiko laki-laki terkena PJPD pada rentang usia remaja sampai umur 50 tahun 2-3 kali lipat dibandingkan dengan perempuan. Sekitar usia 50 tahun ke atas perempuan dan laki-laki mempunyai risiko yang sama terkena PJPD. Terjadinya peningkatan risiko perempuan di usia lanjut disebabkan karena perubahan tubuh yang berkaitan dengan menopause selama bertahun-tahun (Soeharto, 2001: 172). Estrogen endogen melindungi perempuan dari penyakit PJPD. Estrogen dipercaya mencegah terbentuknya plak pada arteri dengan menaikkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL. Oleh karena itu, perempuan setelah menopause terlihat memiliki risiko lebih tinggi daripada sebelum menopause (Gray, 2002: 110).

c. Ras
Perbedaan risiko PJK antara ras didapatkan sangat menyolok, walaupun campur dengan faktor geografis, sosial dan ekonomi. Di Amerika serikat perbedaan ras antara ras caucasia dengan non caucasia (tidak termasuk Negro) didapatkan risiko PJK pada non caucasia kira-kira separuhnya (Djohan, 2004). Insiden kematian dini akibat penyakit jantung pada orang Asia yang tinggal di Inggris lebih tinggi dibandingkan populasi lokal, juga dibandingkan Afro-Karibia (Gray, 2002: 110).

Faktor Risiko yang Dapat Diintervensi:

a. Hipertensi
Hipertensi adalah peninggian tekanan darah di atas normal. Ini termasuk golongan penyakit yang terjadi akibat suatu mekanisme kompensasi kardivaskuler untuk mempertahankan metabolisme tubuh agar berfungsi normal. Mekanisme tersebut terjadi melalui sistem neurohumoral dan kardivaskuler. Apabila hipertensi tak terkontrol akan menyebabkan kelainan pada organ-organ lain yang berhubungan dengan sistem-sistem tersebut, misalnya otak, jantung, ginjal, mata, aorta, dan pembuluh darah tepi.

b. Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia merupakan masalah yang cukup panting karena termasuk faktor risiko utama PJK disamping Hipertensi dan merokok (Djohan, 2004). Kadar kolesterol darah dipengaruhi oleh susunan makanan sehari-hari yang masuk dalam tubuh (diet). Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol darah disamping diet adalah keturunan, umur, dan jenis kelamin, obesitas, stres, alkohol, exercise (Soeharto, 2001, 172).

c. Kegemukan
Ada keterkaitan antara berat badan, peningkatan tekanan darah, diabetes mellitus tidak tergantung insulin (non-insulin dependent diabetes mellitus/NIDDM) (Gray, 2002: 109). Pada umumnya orang gemuk memiliki kadar trigliserida (terdiri dari lemak jenuh, lemak tidak tunggal, dan jenuh ganda) yang tinggi dan disimpan di bawah kulit. Walaupun trigliserida banyak disimpan di bawah kulit, kadang-kadang trigliserida ditemukan dalam darah tinggi. Obesitas cenderung menyebabkan kadar total kolesterol LDL (Low Density Lipiprotein) dan VLDL yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan sebagai faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (Soeharto, 2002). Menurut Yang et al (2007) kegemukan akan berhubungan dengan gen-gen yang terdapat dalam tubuh. Gen-gen yang terdapat di dalam tubuh yang berhubungan dengan kegemukan dan mempunyai pengaruh terhadap penyakit jantung termasuk dalam golongan Adipogenesis.

Arikel lain:
sindrom koroner akut
jantung
penyakit kardiovaskuler

Sumber
Gray, H.H. 2002. Lecture Notes Kardiologi; Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Maximin. 1997. Heart Therapy . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Soeharto, I. 2001. Kolesterol dan Lemak Jahat Kolesterol dan Lemak Baik; Proses Terjadinya Serangan Jantung dan Stroke. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Djohan,T. 2004. Penyakit Jantung Koroner Dan Hypertensi. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. e-USU Repository Universitas Sumatera Utara. [Serial online] http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi-bahri10.pdf
Yang, W., Kelly, T., He,J. 2007. Genetic Epidemiologi of Obesity [serial online] http://epirev.oxfordjournals.org/cgi/reprint/mxm004v1.

Jantung


Jantung

Jantung adalah Organ penting di dalam tubuh manusia. Organ yang selalu bekerja tanpa istirahat selama manusia hidup.
Secara sederhana, jantung kita dapat diumpamakan seperti kantong yang berbentuk kerucut (kebulat-bulatan) yang terpotong bagian atasnya. Ukuran jantung kira-kiaa sebesar kepalan tangan kanan. Pembuluh darah adalah saluran yang membawa dan mendistribusikan darah ke seluruh tubuh (Soeharto,2001: 3).

Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masing-masing memiliki ruang sebelah atas (atrium) yang mengumpulkan darah dan ruang sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah (Rilantoro, 2004). Agar darah hanya mengalir dalam satu arah, maka ventrikel memiliki satu katup pada jalan masuk dan satu katup pada jalan keluar. Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh (Rilantoro, 2004).

Otot-otot jantung terbentuk dari serabut-serabut otot yang bersifat khusus dan dilengkapi jaringan saraf yang secara teratur dan otomatis memberikan rangsangan berdenyut bagi otot jantung. Dengan denyutan ini, jantung memompa darah yang kaya akan oksigen dan zat makanan ke seluruh tubuh termasuk arteri koroner, serta memompa darah yang kurang oksigen ke paru-paru untuk mengambil oksigen agar dapat mendorong sirkulasi darah ke seluruh organ tubuh, jantung normal berdenyut rata-rata 70 kali per menit, dan tiap kali berdenyut memompakan 60 cc darah ke pembuluh nadi dengan tekanan sampai 130 mmHg (Soeharto,2001:

Bagian-bagian jantung yang terpenting adalah :

a. Dinding jantung. Dinding ini memiliki otot-otot yang kuat dan jaringan pembuluh darah arteri koroner yang menyuplai oksigen dan nutrisi, agar jantung dapat berdenyut (kontraksi dan relaksasi).

b. Dua ruang atas yang disebut serambi jantung atau atrium sebelah kanan dan kiri. Dua ruang bawah yang disebut bilik jantung atau ventrical sebelah kanan dan kiri.

c. Empat buah klep jantung. Dua klep menghubungkan serambi dengan bilik kanan serta serambi dengan bilik kiri (tricuspid dan mitral). Sedangkan dua buah yang lain mengatur aliran darah keluar jantung dari bilik kiri dan kanan (aorta dan pulmonary).

d. Suatu sistem listrik yang terdiri dari simpul-simpul Sinoatrial node (SA) dan Atrioventricular node (AV) serta serabut saraf, yaitu suatu kelompok jaringan khusus yang secara periodik dan teratur mencetuskan dan menyebarkan aliran listrik yang berfungsi sebagai pengatur irama jantung dan penghantar rangsangan listrik yang menyebabkan jantung dapat berdenyut secara otomatis dan teratur (Soeharto, 2002: 5).

Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol), selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol) (Rilantoro, 2004). Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru.

Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan oksigen ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru (Rilantoro, 2004).

Literatur
Rilantoro, L. I. 2004. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta: Gaya Baru.
Soeharto, I. 2001. Kolesterol dan Lemak Jahat Kolesterol dan Lemak Baik; Proses Terjadinya Serangan Jantung dan Stroke. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Soeharto, I. 2002. Serangan Jantung dan Stroke; Hubungan sebab terjadinya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Arikel lain:
faktor tisiko penyakit jantung koroner
sindrom koroner akut
penyakit kardiovaskuler

Jumat, 12 Maret 2010

Sejarah Komputer

Sejarah komputer sudah dimulai sekitar 5000 tahun yang lalu. Komputer canggih jaman sekarang merupakan hasil proses evolusi yang panjang.

Definisi Komputer

Definisi komputer adalah alat elektronik terdiri dari komponen-komponen, dimana antara komponen satu dengan komponen lainnya bekerjasama untuk menghasilkan sebuah informasi yang didasarkan pada data-data atau program-program yang sudah ada.

Adapun definisi secara umum berdasarkan sejarah komputer dari awal sampai sekarang komputer dapat didefinisikan sebagai alat yang memproses informasi atau sistem pengolah informasi.

Komputer terdiri dari komponen komputer utama dan komponen pelengkap antara lain:

Komponen utama:

· Layar Monitor

· CPU

· Keyboard
· Mouse

Komponen pelengkap:

· Printer
· Scanner
· Webcam
· Headset
· Dll.

Sejarah, komputer dapat bibagi menjadi beberapa generasi yaitu:

· Alat Hitung Tradisional dan Kalkulator Mekanik
· Komputer Generasi Pertama
· Komputer Generasi Kedua
· Komputer Generasi Ketiga
· Komputer Generasi Keempat
· Komputer Generasi Kelima

Alat Hitung Tradisional dan kalkulator mekanik

Alat hitung pertama dinamakan kalkulator mekanik Abacus yang muncul sekitar 5000 tahun yang lalu di Asia kecil. Perhitungannya menggunakan biji-bijian geser yang diatur dalam rak, hal terebut dianngap asal mula mesin komputasi.

Tahun 1642, Blaise Pascal kalkulator roda numerik (numerical wheel calculator). Kalkulator roda numeric tersebut berbentuk kotak persegi kuningan yang diberi nama Pascaline.

Tahun 1694, Ahli filosofi dan matematika Jerman,Gottfred Wilhem Von memperbaiki Pascaline dengan nemambahkan fungsi perkalian ke dalam mesin barunnya.

Tahun 1820, kalkulator mekanik mulai terkenal. Mesin yang dapat melakukan empat fungsi aritmatik yaitu perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan ditemukan oleh Charles Xavier Thomas de Colmar.

Tahun 1812, Inggris,Charles Babbage nemenukan mesin Differensial. Kemudian beliau membuat komputer general-purpose yang pertama yang disebut Analytical Engine yang merupakan dimulainnya era baru sejarah komputer.

Pada 1889, Hollerith membuat sebuah kartu dapat menyimpan hingga 80 variabel, melakukan kalkulasi dengan cepat serta dapat digunakan sebagai media penyimpanan data.

tahun 1931, Vannevar Bush membuat sebuah kalkulator untuk menyelesaikan persamaan differensial. Atanasoff dan Berry membuat komputer elektrik pertama di tahun 1940

Komputer Generasi Pertama

Tahun 1941, muncul komputer Z3 yang digunakan mendisain peluru kendali dan pesawat tempur. Komputer ini ditemukan oleh insinyur Jerman Konrad Zuse.

Tahun 1943, Inggris membuat komputer bernama Colossus yang digunakan untuk memecahkan kode-rahasia yang digunakan Jerman .

Tahun 1945, Von Neumann mendesain Electronic Discrete Variable Automatic Komputer () dengan sebuah memori untuk menampung baik program ataupun data. Pemrosesan sentral (CPU) pada EDVAC, memungkinkan seluruh fungsi komputer untuk dikoordinasikan melalui satu sumber tunggal

Tahun 1951, Remington Rand membuat UNIVAC I (Universal Automatic Komputer I) sebagai komputer komersial pertama yang memanfaatkan model arsitektur von Neumann.

Karakter komputer generasi pertama adalah setiap komputer punya program kode-biner berbeda yang disebut "bahasa mesin" (machine language), hal ini membuat komputer susah diprogram serta kecepatan komputer terbatas. Selain itu komputer generasi identic dengan tube vakum (yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar) dan silinder magnetik untuk penyimpanan data.

Komputer Generasi Kedua

Tahun 1948 ditemukan transistor yang menggantikan tube vakum di televisi,radio,dan komputer, sehingga ukuran mesin tersebut berkurang drastis. Namun transistor mulai digunakan pada komputer tahun 1956.

Tahun 1960-an, bermunculan komputer generasi kedua yang digunakan di bidang bisnis (contoh: komputer IBM 1401).

Karakter komputer generasi kedua adalah lebih kecil, lebih cepat, lebih hemat energy, dan menggunakan kode bahasa Assembly (bahasa dengan singkatan untuk mengganti kode biner). Komputer menjadi lebih fleksibel karena bahasa pemrograman dan program yang tersimpan memberikan ruang gerak komputer mengolah data.

Pada generasi ini Bahasa pemrograman Common Business-Oriented Language (COBOL) dan Formula Translator (FORTRAN) mulai umum digunakan.

Komputer Generasi Ketiga

Tahun 1958, insinyur Texas Instrument Jack Kilby mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC: integrated circuit) dengan bahan batu kuarsa (quartz rock) untuk mengurangi kelemahan transistor lama yang mudah rusak dan panas.

IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Para ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor.

Karakter komputer generasi ketiga adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang berfungsi untuk memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.

Adannya semikonduktor pada komputer generasi ketika generasimengurangi keruakan pada komputer dan membuat ukuran komputer berkurang drastic dibandingkan komputer generasi dua. Sejarah komputer mengalami perkembangan yang sangat pesat pada tahap ini.

Komputer Generasi Keempat

Pengembangan komputer genrasi keempat adalah mengurangi ukuran sirkuit dan komponen elektrik.

Tahun 1980-an,Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal dengan ukuran yang lebih kecil. Kemudian Ultra-Large Scale Integration (ULSI) meningkatkan jumlah tersebut menjadi jutaan. Ukuran yang semakin kecil menurunkan harga komputer.

Tahun 1971, Chip Intel 4004 yang dibuat dengan seluruhkomponen dari sebuah komputer (central processing unit, memori, dan kendali input/output) diletakkan dalam sebuah chip yang sangat kecil.

Tahun 1981, IBM memperkenalkan penggunaan Personal Komputer (PC) untuk penggunaan di rumah, kantor,dan sekolah. Munculnya software-sowfare game dan aplikasi lainnya mendongkrak penjualn komputer generasi keempat.

Tahun 198-1990-an, perkembangan komputer generasi keempat di ditandai dengan dibuatnya komponen-komponen komputer dalam satu chip, bermunculkan software-sofware (game, grafis, teks) serta munculnya piranti mouse.


Komputer Generasi Kelima

Komputer generasi kelima sampai saat ini belum terealisasi karena komputer generasi kelima diterjemahkan sebagai komputer yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AL). AL dapat cukup memiliki nalar untuk melakukan percapakan dengan manusia, menggunakan masukan visual dan belajar dari pengalamannya sendiri.

Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer
fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey.Sampai saat ini perkembangan komputer mengalami kemajuan menuju realisasi komputer generasi kelima, antara
lain:

· Beberapa komputer dapat menerima instruksi secara lisan dan mampu meniru nalar manusia, kemampuan untuk menterjemahkan bahasa asing juga menjadi mungkin.



· Dua kemajuan lain yaitu kemampuan pemrosesan paralel, yang akan menggantikan model non Neumann. Model non Neumann akan digantikan dengan sistem yang mampu mengkoordinasikan banyak CPU untuk bekerja secara serempak.


· Teknologi superkonduktor yang memungkinkan aliran elektrik tanpa ada hambatan apapun, yang nantinya dapat mempercepat kecepatan informasi.


· Lambat tapi pasti sejarah komputer generasi kelima akan menjadi nyata.